Berdakwah tidak boleh asal. Harus memakai kiat-kiat
jitu, sebagai bentuk usaha optimal agar Allah mengkaruniakan
kesuksesan. Berikut ini beberapa kiat yang bisa dilakukan untuk dakwah
yang sukses.
1. Ikhlas lillahi ta’ala.
Bagaimanapun juga, ikhlas adalah syarat agar Allah memberikan taufiq dan
pertolongan terhadap amalan yang kita lakukan. Jika Allah sudah menjadi
penyerta dan penolong kita, siapa yang bisa menghalangi?
2. Selalu berpegang teguh pada norma dan aturan Islam.
Karena berdakwah itu mengajak manusia pada norma dan aturan Islam, maka
prosesnya pun harus dilakukan sesuai dengan norma dan aturan Islam.
Apakah pantas kita mendakwahkan Islam dengan cara-cara yang bertentangan
dengan norma dan aturan Islam?
3. Miliki fikrah yang syamilah (komprehensif, menyeluruh, tidak parsial).
Islam adalah agama yang syamil. Inilah materi yang mesti kita
dakwahkan. Jangan sampai kita menyebarluaskan persepsi yang parsial
mengenai Islam.
4. Mu’ashirah (mengikuti perkembangan zaman).
Peradaban dan cara hidup manusia terus berkembang dari waktu ke waktu.
Perkembangan ini harus disadari oleh para dai. Materi yang didakwahkan
dan cara-cara berdakwah harus menyesuaikan diri dengan perkembangan
zaman. Jika tidak, dakwah akan dianggap sebagai sesuatu yang kuno,
membosankan, dan akan ditinggalkan oleh orang.
5. Memanfaatkan segenap sarana, tidak hanya dengan kata-kata.
Sekarang ini banyak sekali sarana-sarana yang bisa dipakai untuk
berdakwah. Dengan sarana-sarana baru ini, diharapkan dakwah akan tampil
lebih menarik. Dengan bantuan komputer, slide, video dan multimedia
misalnya, dakwah akan terlihat lebih menarik. Demikian pula dakwah
jangan hanya sebatas retorika, tetapi harus dibarengi dengan
keteladanan. Saat ini masyarakat sangat membutuhkan keteladanan
ditengah-tengah kehidupan yang tidak karuan. Seorang dai yang bisa
dijadikan teladan akan menjadi daya tarik tersendiri.
6. Think globally, act locally.
Di zaman yang sudah serba global ini, kita juga harus memiliki cara
berpikir yang global. Jangan sampai pikiran kita sempit dan picik. Meski
demikian, tindakan dan aksi tetap harus bersifat lokal, sesuai dengan
tantangan, situasi, dan kondisi tempat dimana kita berada.
7. Tidak melupakan dakwah fardiyah.
Dakwah bukan hanya berceramah dalam suatu kegiatan tabligh akbar, lalu
selesai. Para obyek dakwah memerlukan pendekatan yang bersifat lebih
personal. Dengan pendekatan personal, obyek dakwah akan merasa lebih
diperhatikan. Disamping itu, pendekatan personal memungkinkan mutaba’ah
(evaluasi) terhadap obyek dakwah, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh
forum-forum besar seperti majelis taklim dan tabligh akbar.
8. Perhatikan pentahapan dan fiqih prioritas.
Jangan tergesa-gesa ketika berdakwah. Untuk bisa menjadi baik,
seseorang butuh proses, dan proses butuh waktu. Perubahan menjadi lebih
baik harus dilakukan perlahan-lahan, tidak bisa berlangsung seketika
seperti membalik telapak tangan. Beban-beban ibadah harus diberikan
secara bertahap, mulai dari yang paling ringan, kemudian meningkat lebih
berat, kemudian lebih berat lagi, dan demikian seterusnya.
9. Tahu medan dan menyesuaikan diri dengan medan.
Seorang dai harus mengetahui medan dakwahnya. Masyarakat seperti apa
yang dihadapi. Permasalahan apa yang sedang dihadapi oleh masyarakat.
Tantangan-tantangan apa saja yang ada dan berpotensi menghadang.
Demikian pula bahasa apa dan cara seperti apa yang disukai oleh
masyarakat. Hendaknya seorang dai berdakwah dengan menggunakan bahasa
kaumnya, dan menyesuaikan kadar akal mereka.
10. Para dainya hendaknya memiliki bekal yang mencukupi,
baik itu bekal ruhiyah (spiritual), tsaqafiyah (ilmu dan wawasan),
maliyah (finansial), jasadiyah (fisik), maupun idariyah (manajerial).
Tanpa bekal yang cukup, seorang dai pasti akan merasa berat atau bahkan
tidak mampu untuk menanggung beban dan menghadapi tantangan-tantangan
yang ada selama berdakwah.
11. Jaga ukhuwah dan soliditas, hindari perpecahan, dan kedepankan syura.
Berdakwah membutuhkan amal jama’i (kerjasama, teamwork), bukan amal
nafsi-nafsi. Karena keniscayaan amal jama’i inilah, ukhuwah dan
soliditas menjadi sangat penting. Sebaliknya, perpecahan akan melemahkan
dakwah. Untuk bisa menguatkan ukhuwah dan soliditas, hendaknya kita
menjunjung tinggi prinsip syura. Pecahkanlah dan bahaslah
permasalahan-permasalahan penting melalui syura. Jika syura dilakukan
dengan baik, insyaallah potensi perpecahan akan bisa diminimalkan.
12. Perhatikan kaderisasi.
Dakwah adalah sebuah proses yang panjang. Lebih panjang dari umur
seorang manusia. Lebih panjang dari umur satu generasi. Untuk itu,
diperlukan kaderisasi agar dakwah bisa terus berjalan dari generasi ke
generasi. Kaderisasi penting untuk memastikan ketersediaan para dai yang
berkualitas dari generasi ke generasi, dari waktu ke waktu.
13. Lakukan staffing dan pengorganisasian SDM sesuai dengan potensi.
Ini penting dilakukan agar setiap orang mendapatkan peran terbaik dalam
amal dakwah. Harapannya, hasil dakwah pun bisa maksimal. Penempatan SDM
yang salah akan menyebabkan inefisiensi, dan bahkan ketidakpuasan dan
gejolak. Ini tentu saja kerugian bagi dakwah.
14. Terapkan manajemen yang baik.
Sudah sama-sama diketahui bahwa kejahatan yang terorganisasi bisa
mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisasi. Agar ini tidak terjadi,
kebaikan harus di-manage dengan baik. Tidak terkecuali dakwah. Manajemen
dalam dakwah meliputi banyak hal. Mulai dari analisis, perencanaan
(long-term, mid-term, short term; strategis, taktis, teknis),
implementasi, kontrol dan evaluasi.
15. Padukan antara fiqih dakwah dan management tools.
Seorang dai mesti memahami fiqih dakwah sebelum berdakwah. Namun fiqih
dakwah saja tidak cukup karena fiqih dakwah hanya sebuah konsep.
Diperlukan juga tools yang bersifat praktis untuk mendukung
konsep-konsep fiqih dakwah yang sudah dipahami. Tools itu tidak lain
adalah management tools.
Sumber:
http://menaraislam.com